Rabu, 31 Januari 2018

Pelaku Chikan Di Jepang Umbar Rencana Mereka Meraba Siswi Saat Center Test Di Dunia Maya

Meski telah melakukan berbagai strategi pencegahan seperti menyediakan kereta khusus wanita, stiker rasa malu yang tidak bisa di cuci, hingga menangkap para pelakunya, chikan atau pelecehan seksual dengan meraba bagian tubuh wanita di kereta masih menjadi salah satu masalah serius yang berada di Jepang. Bahkan, baru-baru ini  sebuah segmen dalam program NHK, News Watch 9 menampilkan kumpulan post di media sosial tentang kejadian pelecehan tersebut.


Di Jepang, pada tanggal 13 dan 14 Januari merupakan hari-hari penuh tekanan bagi banyak remaja karena bertepatan dengan Center Test, di mana banyak perguruan tinggi di negara tersebut memerlukan skor tinggi sebagai bagian dari kriteria penerimaannya. Para peserta ujian tidak mengikuti tes di kampus masing-masing, melainkan mereka harus pergi ke tempat ujian setempat pada pagi hari. Hal tersebut pun dimanfaatkan oleh beberapa pelaku kejahatan seksual.

Seperti yang disampaikan oleh NHK, ketika waktu ujian akan bergulir para calon pemangsa itu bahkan mengumbar rencana mereka untuk meraba-raba siswi sekolah di kereta pada pagi hari di dunia maya. Salah satunya dengan bangga mengungkap rencananya dengan mengatakan, "Saat Center Test berlangsung besok, kondisinya sangat bagus untuk chikan. Baiklah, besok aku akan naik kereta dan sedikit 'berkomunikasi' dengan gadis-gadis tersebut."


Berikut ini adalah beberapa ungkapan dari para pelaku chikan yang dibagikan oleh NHK:

"Besok adalah Center Test, dan waktu yang sangat bagus untuk chikan."
"Kesempatan nomor satu untuk chikan adalah pada hari-hari Center Test."
"Kalian bisa merasakan gadis-gadis yang kalian inginkan menuju Center Test dan bebas dari hukuman."
"Besok Center Test? Ini adalah karnaval chikan."
"Saya baru menyadari sesuatu yang menakjubkan. Jika kalian meraba-raba seorang gadis pada hari Center Test, kalian tidak akan tertangkap, bukan?"

Center Test hanya diadakan sekali dalam setahun, dan semua peserta ujian diminta datang tepat waktu, jika terlambat makan mereka hanya bisa ikut lagi di tahun depannya. Sementara itu, melaporkan insiden ini memerlukan proses yang memakan waktu yang cukup lama. Korban pun harus menunggu kereta hingga mencapai stasiun berikutnya, lalu memanggil pihak berwenang yang tentunya tidak mudah ditemui.


Korban juga harus memberikan pernyataan, dan semua itu tentunya akan menghabiskan banyak waktu di mana mereka pun harus datang ke tempat Center Test tepat waktu. Ketika para siswi ini terpaksa untuk memilih antara membiarkan pelaku pelecehan seksual mereka lolos atau tidak dapat mengikuti ujian karena terlambat, kebanyakan dari mereka justru memilih untuk membiarkannya demi dapat mengikuti ujian. 

Source : Japanese Station
#article #japan #culture #lifestyle #news #scandal #chikan #centertest
Aizawa Kousaku
Aizawa Kousaku

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar